Analisis Kebutuhan Tenaga Kefarmasian Berdasarkan Workload Indicators of Staffing Need (WISN) di Rumah Sakit Mulia Pajajaran
DOI:
https://doi.org/10.56442/pef.v4i3.1569Keywords:
beban kerja; instalasi farmasi; SDM kesehatan; WISN; work samplingAbstract
Kecukupan tenaga kefarmasian merupakan prasyarat penting bagi pelayanan obat yang aman, efektif, dan efisien. Instalasi Farmasi Rumah Sakit Mulia Pajajaran menghadapi peningkatan beban pelayanan pada periode tertentu, penumpukan resep pada jam puncak, ketidakseimbangan distribusi tenaga, serta hambatan operasional yang berpotensi memengaruhi mutu dan keselamatan pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan tenaga kefarmasian berdasarkan beban kerja aktual menggunakan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN), menggambarkan distribusi penggunaan waktu melalui work sampling, dan mengidentifikasi faktor operasional yang memengaruhi kecukupan serta efektivitas pemanfaatan tenaga. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran dengan komponen kuantitatif dominan dan desain potong lintang. Data diperoleh melalui work sampling selama 14 hari, wawancara mendalam terhadap 13 informan, dan telaah dokumen. Waktu Kerja Tersedia (WKT) dihitung berdasarkan pola kerja aktual Farmasi Dasar dan Farmasi Basement, kemudian diagregasikan secara tertimbang. Kebutuhan tenaga dihitung menggunakan WISN, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik dan diintegrasikan melalui triangulasi. Hasil: WKT gabungan tertimbang sebesar 121.293 menit/tenaga/tahun. Aktivitas produktif mencapai 90,9%, yang terdiri atas 75,7% aktivitas produktif langsung dan 15,2% aktivitas produktif tidak langsung. Proporsi aktivitas produktif per shift sebesar 91,6% pada pagi, 91,6% pada siang, dan 88,7% pada malam. Kebutuhan kegiatan pokok sebesar 34,02 FTE. Setelah memperhitungkan Category Allowance Standard sebesar 10,71% dan Category Allowance Factor sebesar 1,12, kebutuhan total menjadi 38,10 FTE atau 39 tenaga. Dibandingkan dengan 35 tenaga yang tersedia, terdapat kekurangan 3,10 FTE atau sekitar empat tenaga secara operasional, dengan rasio WISN 0,92. Temuan kualitatif menunjukkan adanya ketidakseimbangan lini proses, kesenjangan kompetensi tenaga baru, kebutuhan supervisi, penginputan berulang, keterbatasan integrasi sistem informasi, kendala stok/logistik, serta kebutuhan konfirmasi resep kepada dokter penanggung jawab pelayanan. Kesimpulan: Ketersediaan tenaga kefarmasian belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan berdasarkan beban kerja aktual. Strategi pemenuhan tenaga perlu dilakukan secara bertahap dan diintegrasikan dengan redistribusi berbasis jam puncak pelayanan, perbaikan keseimbangan lini proses, penguatan kompetensi dan orientasi tenaga baru, evaluasi komposisi keterampilan Apoteker-TTK, serta optimalisasi sistem informasi dan logistik.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.